Proyek Penahan Tebing Jalan Provinsi di Tanjung Bulan Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Kini Retak dan Terancam Ambruk

Investigasi, Pendapat233 Dilihat

Trabaznews.com, Ogan Ilir— Proyek pembangunan penahan tebing di ruas jalan provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, menjadi sorotan warga. Proyek yang disebut baru selesai dikerjakan sekitar satu hingga dua minggu pada Agustus 2026 itu dilaporkan mulai mengalami keretakan di sejumlah bagian dan dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jalan serta masyarakat sekitar.

Berdasarkan kondisi yang disampaikan warga, retakan terlihat memanjang di sekitar area pembangunan dengan perkiraan mencapai 50 meter. Sejumlah bagian penahan tebing juga tampak mengalami kerusakan, material batu terlihat bergeser atau terlepas, sementara bagian timbunan dan badan jalan di sekitar lokasi menunjukkan tanda-tanda retak.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena bangunan penahan tebing merupakan bagian penting untuk menjaga kestabilan badan jalan, terutama ketika memasuki musim hujan dengan curah hujan tinggi.

Salah seorang warga setempat, Patik usman (40), menyampaikan kekhawatirannya melalui unggahan di media sosial. Ia berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pemeriksaan sebelum kondisi semakin parah.

“Kalau tidak segera diperbaiki, kami khawatir penahan tebing ambruk dan jalan ikut longsor. Ini bisa membahayakan masyarakat,” keluhnya.

Diduga Baru Selesai, Sudah Mengalami Kerusakan

Warga mempertanyakan kualitas pekerjaan karena kerusakan disebut muncul tidak lama setelah proyek selesai dikerjakan. Namun, dugaan mengenai kualitas konstruksi tersebut belum dapat disimpulkan tanpa adanya pemeriksaan teknis dari pihak berwenang.

Sejumlah warga juga mempertanyakan material dan metode konstruksi yang digunakan. Beredar keluhan mengenai dugaan kualitas campuran material yang kurang baik serta penggunaan besi yang dinilai minim.

Meski demikian, seluruh dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, dokumen pekerjaan, spesifikasi proyek, serta klarifikasi dari pelaksana dan instansi yang bertanggung jawab.
Papan Informasi Proyek Dipertanyakan
Sorotan lain datang dari tidak terlihatnya papan informasi proyek di sekitar lokasi. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mengetahui informasi dasar pekerjaan, seperti sumber anggaran, nilai proyek, instansi penanggung jawab, perusahaan pelaksana, spesifikasi pekerjaan, hingga waktu pelaksanaan.

Ketiadaan informasi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai transparansi proyek dan pihak yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan penahan tebing tersebut.

Warga berharap informasi proyek dapat dibuka secara jelas kepada masyarakat sehingga publik mengetahui penggunaan anggaran serta pihak yang harus dihubungi apabila terjadi persoalan di lapangan.

Warga Minta Pemeriksaan Teknis Segera

Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat karena lokasi tersebut berada di ruas jalan yang digunakan masyarakat setiap hari. Apabila keretakan terus berkembang dan penahan tebing mengalami kegagalan struktur, kondisi tersebut berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Terlebih saat musim hujan, air dapat memperbesar retakan dan mempercepat pergerakan tanah apabila sistem penahan serta drainase tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Masyarakat meminta Dinas PUPR Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh.

Pemeriksaan diharapkan mencakup kondisi struktur penahan tebing, material yang digunakan, pondasi, sistem drainase, kestabilan tanah, serta kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis dan dokumen kontrak.

Jika ditemukan adanya pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, warga meminta pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan sementara, tetapi memastikan penanganan dilakukan secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan Menunggu Sampai Terjadi Longsor.

Persoalan proyek penahan tebing ini juga menjadi bagian dari keluhan masyarakat mengenai kondisi ruas jalan provinsi dari wilayah Payaraman menuju Rambang Kuang hingga Muara Kuang yang di sejumlah titik dilaporkan mengalami kerusakan.

Warga berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga mencakup pengawasan kualitas pekerjaan dan pemeliharaan setelah proyek selesai.

Publik kini menunggu keterbukaan mengenai siapa pelaksana proyek, berapa nilai anggarannya, sumber pendanaannya, bagaimana spesifikasi teknisnya, serta apakah pekerjaan telah memenuhi standar mutu dan keselamatan konstruksi.

Apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya pekerjaan yang tidak sesuai ketentuan, pemerintah diharapkan mengambil tindakan sesuai aturan dan meminta pihak yang bertanggung jawab melakukan perbaikan.

Sebab, persoalan infrastruktur bukan sekadar soal bangunan yang retak. Di baliknya ada keselamatan masyarakat dan pengguna jalan.

Jangan menunggu penahan tebing benar-benar ambruk atau longsor terjadi baru bertindak. Pemeriksaan dan langkah pencegahan harus dilakukan sejak tanda-tanda kerusakan mulai terlihat. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.(Mlk)

Komentar