BBM Langka di Tanjung Bulan Ogan Ilir, Polisi Redam Rencana Demo Warga ke Pertamina

Editorial388 Dilihat

Trabaznews.com, Ogan Ilir— Ketegangan sempat menyelimuti Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, setelah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax terjadi selama dua hari berturut-turut dan memicu keresahan masyarakat. Situasi yang terus memanas bahkan nyaris berujung pada aksi massa ke Stasiun Pengumpul Sp Ogan milik PT Pertamina di wilayah tersebut.

Warga yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perkebunan, hingga perdagangan mengaku kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari akibat terbatasnya pasokan BBM. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat dilaporkan antre panjang di beberapa titik, sementara sebagian warga memilih menyimpan kendaraan mereka karena tidak lagi memiliki bahan bakar.

Di tengah meningkatnya tekanan masyarakat, Kepolisian Sektor (Polsek) Muara Kuang bergerak cepat melakukan pendekatan persuasif guna mencegah terjadinya aksi demonstrasi yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di kawasan operasional energi tersebut.

Kapolsek Muara Kuang, Harry Setiawan, mengatakan pihaknya segera menurunkan personel setelah menerima laporan dari pemerintah desa mengenai adanya rencana warga untuk mendatangi fasilitas Stasiun Pengumpul Ogan PT Pertamina secara beramai-ramai.

“Anggota kami langsung turun menemui masyarakat untuk memberikan penjelasan dan memastikan bahwa persoalan kelangkaan BBM sedang dikoordinasikan. Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan maupun ketertiban umum,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Langkah cepat aparat dinilai berhasil meredam situasi yang sempat memanas. Dalam dialog yang dilakukan secara langsung dengan warga, polisi juga meminta masyarakat mengedepankan komunikasi serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh keadaan.

Meski demikian, warga tetap menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kondisi distribusi BBM yang dinilai tidak stabil. Beberapa tokoh masyarakat menyebut kelangkaan yang terjadi bukan hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga mengancam roda ekonomi desa.

“Petani kesulitan membawa hasil kebun, pedagang terganggu distribusinya, dan masyarakat kecil yang paling merasakan dampaknya. Kami hanya ingin ada kepastian pasokan BBM untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar salah satu warga dalam pertemuan bersama aparat kepolisian.

Situasi tersebut kembali menyoroti ketergantungan masyarakat pedesaan terhadap distribusi energi, khususnya di wilayah-wilayah penyangga industri migas. Di tengah keberadaan fasilitas energi berskala besar, warga berharap kebutuhan dasar mereka terhadap BBM tidak justru menjadi persoalan yang berulang.

Sejumlah warga juga meminta adanya langkah konkret dari pihak terkait agar distribusi Pertalite dan Pertamax kembali normal serta tidak menimbulkan gejolak sosial di kemudian hari. Mereka menilai keterlambatan penanganan persoalan distribusi dapat memicu ketidakpercayaan publik apabila tidak segera diselesaikan secara terbuka dan transparan.

Sementara itu, aparat kepolisian memastikan situasi di Desa Tanjung Bulan tetap kondusif hingga malam hari setelah dilakukan pendekatan dialogis kepada masyarakat. Polisi juga menyatakan akan terus memantau perkembangan distribusi BBM guna mencegah munculnya potensi konflik sosial baru di tengah masyarakat.

Peristiwa di Tanjung Bulan menjadi gambaran nyata bagaimana persoalan distribusi energi di daerah dapat dengan cepat berkembang menjadi isu sosial yang sensitif. Ketika kebutuhan dasar masyarakat terganggu, respons cepat pemerintah dan aparat keamanan menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas sekaligus memastikan suara warga tetap didengar.(Mlk)